Posted by: stevanustanly | September 22, 2011

Kalender 2012 beserta tanggal merah-nya

Well, terpikir banyak teman yg ingin berlibur dengan low cost airlines itu, saya mencoba membantu menampilkan kalender 20112 beserta dengan liburnya, tentunya untuk memudahkan teman-teman mengatur jadwal liburan.

calendar 2012Berikut keterangannya:

iburnya apa aja sih? nih:

1 Januari (Minggu) –> Tahun Baru Masehi

23 Januari (Senin) –> Tahun Baru Imlek

4 Februari (Sabtu) –> Maulid Nabi Muhammad SAW

23 Maret (Jumat) –> Hari Raya Nyepi

6 April (Jumat juga) –> Jumat Agung

5 Mei (Sabtu) –> Hari Raya Waisak

17 Mei (Kamis) –> Kenaikan Isa Almasih

16 Juni (Sabtu lagi) –> Lailat al Miraj

17 Agustus (Jumat) –> Hari Proklamasi Kemerdekaan R.I.

19 Agustus (Minggu) –> Lebaran

26 Oktober (Jumat) –> Hari Raya Idul Adha

15 November (Kamis) –> Tahun Baru 1433 Hijriyah

25 Desember (Selasa) –> Hari Raya Natal

 

Mudah-mudahan dapat membantu. Happy Holiday.

 

 

 

 

 

Posted by: stevanustanly | September 5, 2011

How to be Insanely Productive and Still Keep Smiling

Do you want to be more productive? Maybe you do, but I’m sure you don’t want to feel stressed, overwhelmed, or unhappy – which happens to many super-productive people. But there is good news:

You can be insanely productive – and still smell the freesias, savor a Pinot Noir, or enjoy a languid hug.

A few weeks ago Leo Babauta said to me, “Mary – you’re one of the most productive people I know. And you still keep smiling and seem so relaxed. How do you do it?”

Most stuff I’ve read about productivity is about doing things differently. Like getting up at 4 a.m. each morning, or drinking eight liters of water a day, or keeping a notebook under the pillow. Sorry, folks – I don’t do any of those things.

High productivity isn’t about doing, it’s about being.

If you want to be highly productive – and still enjoy life – you need to look at how you live, and how you use your mind. Check out the following five suggestions:

  1. Make peace within.
    Most people live in a constant state of inner conflict and suffer from a barrage of negative thoughts that sabotage productivity.Here’s a scenario: Imagine that your car has landed in a ditch. A group of helpers gather, attach ropes and start to pull the car out. Unfortunately, they’re not all pulling in the same direction. Some try to pull the car toward the road, whereas others try to pull it deeper into the ditch. It’s absurd.

    That’s exactly what happens when we’re divided within: everything is a struggle, nothing much happens, and it’s frustrating. But what if your mind, body, and soul are all aligned?

    When our energy is aligned, we are in a state of flow.

    When we’re at peace within, and immersed in the task at hand – without negative thoughts sabotaging our productivity – action becomes effortless. We’re able to achieve much more in less time. And with more enjoyment.

    Tip: Wear an elastic wristband. Whenever you notice negative thoughts, change your wristband to the other arm. This will help you to create and maintain peace within.

  2. Go to your edge. Regularly.
    Most people use only a fraction of their capacity and try to save personal energy. For example, we’re tempted to rest when we feel tired in order to recover our zest for life. Wrong move! The more energy you spend, the more you have.Tiredness can signal many things. If you’re healthy, it may mean that you are bored, frustrated, lack movement, or need more oxygen. Or maybe conflict within has sapped your energy. It’s important to go to your limits regularly. Take up running, martial arts, swimming, or other activities – there are many way to exercise vigorously.

    Tip: If you feel exhausted or lethargic, go for a brisk walk in order to rev up your energy and restore your spirit.

  3. Take action.
    Most people aren’t productive because they don’t take action. They have dreams and even plans – but they don’t follow through. Negative thoughts can derail action. It may be that you have doubts about your ability, or that you listen to others who doubt you.Tip: Look at what you would like to achieve and ask yourself, “What is the smallest step in the direction of my dreams that I can take right now?” Then take that baby step. Now.
  4. Do what you love.
    Think about how you spend your time. Do you enjoy your work, or is it a grind? I’ve changed my life, and what I’m passionate about has now become my work: I teach my Zen students, and also work together with Leo to mentor bloggers in the A-list Blogger Club .A few days ago my partner David knocked at the door of the little cabin in the garden where I work:

    “Mary,” he said, “ do you realize it’s 10 o’clock at night – and you’re still working?”
    “I’m not working!” I shot back. “I’m enjoying myself!”

    Yes, when the boundary between work and play gets blurred, you may actually work more – but it feels like you’re just having fun.

    Tip: Follow your dreams – even if it’s only for ten minutes a day.

  5. Love what you do.
    We can’t always do what we love. But we are free to love what we do. From a Zen perspective, there is a way to turn even the dullest chore into pleasurable activity through mindfulness.When we pay tender regard to our present experience – letting go of all thoughts and judgments – even the most mundane action can become pleasurable. Mindfulness doesn’t mean watching yourself, it means being fully present, moment by moment.Tip: In order to become mindful, notice sensations of the moment. What sounds can you hear? How are your feet connected with the ground? What does your skin feel like?


Finally, a key question you need to ask …

If you want to be productive and still enjoy life, there is a key question you need to answer: why be productive?

I mean, why not just chill out on the couch, eat potato crisps, and watch TV reruns? That might be fine. But what about the oblong box we’re all going to end up in?

I remind myself every morning that life is short and mine may be over by nightfall. That gives me the the desire to taste and enjoy each moment. It also adds a measure of calm urgency because I want to leave a mark upon the world. Do you?

If so, mindful productivity will help you create a life that offers both pleasure and productivity. You’ll achieve more, and you’ll still keep smiling. That smile will light up not only your own life, but also the lives of those around you.

You don’t have to be a super-hero. Simply make peace within and live each moment fully. That’s all.

by Mary Jaksch

Posted by: stevanustanly | August 11, 2011

Hakikat Pendidikan

Apa sih hakikat pendidikan? Apakah tujuan yang hendak dicapai oleh institusi pendidikan?

Agak miris lihat kondisi saat ini. Institusi pendidikan tidak ubahnya seperi pencetak mesin ijazah. Agar laku, sebagian memberikan iming-iming : lulus cepat, status disetarakan, dapat ijazah, absen longgar, dsb. Apa yang bisa diharapkan dari pendidikan kering idealisme seperti itu. Ki hajar dewantoro mungkin bakal menangis lihat kondisi pendidikan saat ini. Bukan lagi bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa (seperti yang masih tertulis di UUD 43, bah!), tapi lebih mirip mesin usang yang mengeluarkan produk yang sulit diandalkan kualitasnya.

Pendidikan lebih diarahkan pada menyiapkan tenaga kerja “buruh” saat ini. Bukan lagi pemikir-pemikir handal yang siap menganalisa kondisi. Karena pola pikir “buruh” lah, segala macam hapalan dijejalkan kepada anak murid. Dan semuanya hanya demi satu kata : IJAZAH! ya, ijazah, ijazah, ijazah yang diperlukan untuk mencari pekerjaan. Sangat minim idealisme untuk mengubah kondisi bangsa yang morat-marit ini, sangat minim untuk mengajarkan filosofi kehidupan, dan sangat minim pula dalam mengajarkan moral.

Apa sebaiknya hakikat pendidikan? saya setuju dengan katamencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi, ini masih harus diterjemahkan lagi dalam tataran strategis/taktis. kata mencerdsakan kehidupan bangsa mempunyai 3 komponen arti yang sangat penting : (1) cerdas (2) hidup (3) bangsa.

(1) tentang cerdas
Cerdas itu berarti memiliki ilmu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan real. Cerdas bukan berarti hapal seluruh mata pelajaran, tapi kemudian terbengong-bengong saat harus menciptakan solusi bagi kehidupan nyata. Cerdas bermakna kreatif dan inovatif. Cerdas berarti siap mengaplikasikan ilmunya.

(2) tentang hidup
Hidup itu adalah rahmat yang diberikan oleh Allah sekaligus ujian dari-Nya. Hidup itu memiliki filosofi untuk menghargai kehidupan dan melakukan hal-hal yang terbaik untuk kehidupan itu sendiri. Hidup itu berarti merenungi bahwa suatu hari kita akan mati, dan segala amalan kita akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Patut dijadikan catatan, bahwa jasad yang hidup belum tentu memiliki ruh yang hidup. Bisa jadi, seseorang masih hidup tapi nurani kehidupannya sudah mati saat dengan snatainya dia menganiaya orang lain, melakukan tindak korupsi, bahkan saat dia membuang sampah sembarangan. Filosofi hidup ini sangat sarat akan makna individualisme yang artinya mengangkat kehidupan seseorang, memanusiakan seorang manusia, memberikannya makanan kehidupan berupa semangat, nilai moral dan tujuan hidup.

(3) tentang bangsa
Manusia selain sesosok individu, dia juga adalah makhluk sosial. Dia adalah komponen penting dari suatu organisme masyarakat. Sosok individu yang agung, tapi tidak mau menyumbangkan apa-apa apa-apa bagi masyarakatnya, bukanlah yang diajarkan agama maupun pendidikan. Setiap individu punya kewajiban untuk menyebarkan pengetahuannya kepada masyarakat, berusaha meningkatkan derajat kemuliaan masyarakat sekitarnya, dan juga berperan aktif dalam dinamika masyarakat. Siapakah masyarakat yang dimaksud disini? Saya setuju bahwa masyarakat yang dimaksud adalah identitas bangsa yang menjadi ciri suatu masyarakat. Era globalisasi memang mengaburkan nilai-nilai kebangsaan, karena segala sesuatunya terasa dekat. Saat terjadi perang Irak misalnya, seakan-akan kita bisa melihat Irak di dalam rumah. Tapi masalahnya, apakah kita mampu berperan aktif secara nyata untuk Irak (selain dengan doa ataupun aksi)? Peran aktif kita dituntut untuk masyarakat sekitar…dan siapakah masyarakat sekitar? tidak lain adalah individu sebangsa.

inilah sekelumit tulisan yang saya jadikan pokok pemikiran buat apa itu hakikat pendidikan sebenarnya.

Sumber: pendidikanindonesia.blogspot.com

Dear all Binusian,

Seiring dengan semangat inovasi dan mendukung pencapaian tujuan BINUS 20/20 sebagai World Class University, kami ingin mengundang mahasiswa Magister Teknik Informatika (MTI)/Magister Manajemen Sistem Informasi – BINUS University untuk dapat berpartisipasi lebih lanjut pada perkembangan dan pencapaian tujuan lembaga tersebut sebagai Faculty Member di Faculty of Computer Studies – Binus University. Selain kesempatan berkarir dalam area akademis, kami juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa MMSI/MTI – BINUS University  untuk dapat melanjutkan studi yang tengah dijalani melalui Program Beasiswa.

Sehubungan dengan hal tersebut maka kami mengundang mahasiswa/i sekalian untuk dapat hadir dalam sosialisasi program Faculty Member dan penawaran beasiswa MMSI/MTI – BINUS University pada:

Hari/Tanggal             : Sabtu, 9 Juli 2011

Pukul                        : 13.00 – 15.00 WIB

Tempat                     : Exhibition Hall – Lantai 3 Kampus Anggrek – Gedung Baru

Untuk konfirmasi kehadiran Saudara/i diharapkan dapat menghubungi langsung atau mengirim email pada contact person terkait: Jurusan Magister Manajemen Sistem Informasi (Bpk. Nilo Legowo (0818 410 419 / 5345830 ext 1804/nlegowo@binus.edu); Jurusan Magister Teknik Informatika (Bpk Honni 0818 923 436 / 5345830 ext 1804/honni@binus.edu)

Mari kita mengembangkan potensi yang kita miliki untuk mencapai tujuan kita bersama. Terima kasih untuk perhatian dan kerja sama para binusian sekalian.

Posted by: stevanustanly | May 18, 2011

3 Tips Praktis Membangun Knowledge Management

Sedang asyik melihat artikel2 mengenai KM (Knowledge Managament), saya menyasar ke blog teman S2 saya. Saya menemukan sebuah artikel yang baik untuk memperkaya blog saya. Berikut merupakan tulisan Ibu Donna mengenai 3 tips praktis penerapan KM. (sumber http://newbiecio.blogspot.com)

Knowledge-based economy, demikian sebuah kosa kata yang kini makin acap terdengar. Frasa itu secara eksplit juga makin meneguhkan pentingnya makna pengetahuan bagi eksistensi sebuah organisasi – entah itu organisasi bisnis ataupun organisasi publik.

Dalam konteks itulah, kini juga makin mendesak sebuah kebutuhan bagi setiap organisasi untuk membangun apa yang disebut sebagai knowledge management atau manajemen pengetahuan. Knowledge management atau sering disingkat KM sendiri sejatinya dapat diartikan sebagai sebuah tindakan sistematis untuk mengidentifikasi, mendokumentasikan, dan mendistribusikan segenap jejak pengetahuan yang relevan kepada setiap anggota organisasi tersebut, dengan tujuan meningkatkan daya saing organisasi.

Di Indonesia sendiri, konsep dan aplikasi dari knowledge management ini sudah makin berkembang dengan baik. Bahkan ada sebuah organisasi konsultan, yakni Dunamis (pemegang lisensi Stephen Covey di Indonesia) yang memberikan award tahunan bagi perusahaan di Indonesia yang dianggap terbaik dalam penerapan knowledge management. Award itu disebut MAKE (Most Admired Knowledge Enterprises), dan tiga pemenang utama untuk tahun 2008 ini adalah Excelkomindo Pratama (XL), Astra International dan Telkom Indonesia.

Lalu langkah apa saja yang mesti dilakukan untuk mengembangkan knowledge management yang tangguh? Berikut tiga tips praktis yang mungkin bisa dirajut guna menata knowledge management yang efektif.

Langkah yang pertama adalah membangun apa yang bisa disebut sebagai Portal Pengetahuan secara internal (intranet knowledge portal). Dalam portal yang bisa diakses oleh setiap anggota perusahaan inilah, disusun beragam folder dan menu pengetahuan yang relevan. Isinya bisa menyangkut artikel-artikel tentang manajemen praktis; paper mengenai dinamika industri bisnis yang digeluti; materi-materi pelatihan internal; ataupun juga berupa paper pengalaman dari karyawan perusahaan tersebut dalam mengerjakan sebuah projek tertentu.

Dulu ketika saya masih bekerja pada sebuah perusahaan konsultan asing, firma saya ini menyediakan sebuah portal pengetahuan yang sangat ekstensif. Salah satu menu favorit kami adalah “lesson learned paper” yang berisikan poin-poin penting apa – baik poin kegagalan ataupun keberhsilan — yang diperoleh ketika rekan-rekan kami mengerjakan projek konsultasi untuk para kliennya di berbagai negara di dunia. Melalui paper ini, “learning curve” kami dapat bergerak dengan cepat lantaran adanya proses saling berbagai pengetahuan dari beragam sumber di beragam tempat.

Lalu, siapa yang mestinya mengelola portal pengetahuan ini? Idealnya mesti ada satu dedicated person yang bertugas mengidentifikasi, mengkodifikasi dan menata beragam sumber pengetahuan yang relevan (sebutannya adalah “knowledge officer”). Orang ini tentu mesti dibantu oleh tim IT untuk menyiapkan infrastruktur database dan portal intranet tersebut.
Langkah praktis kedua adalah dengan mentradisikan semacam pertemuan Knowledge Sharing Session, selama sekitar 2 jam, setidaknya setiap bulan sekali. Sharing session ini bisa dilakukan secara corporate-wide, atau dilakukan per departemen/divisi. Bisa dilakukan dengan mengundang narasumber dari luar atau internal. Materinya bisa berupa pengetahuan manajemen praktis ataupun pengalaman karyawan dalam mengerjakan sebuah tugas/projek. Hasil sharing session ini kemudian juga bisa di-upload ke Portal Pengetahuan, sehingga setiap karyawan bisa mengakses materinya. Knowledge sharing session ini akan sangat bermanfaat dalam menggali dan mendistribusikan potensi pengetahuan yang ada dalam diri setiap karyawan perusahaan.

Langkah praktis ketiga adalah dengan menerbitkan semacam Online Knowledge Buletin. Buletin ini dapat diterbitkan sebulan atau dua bulan sekali, dan berisikan update pengetahuan-pengetahuan mutakhir mengenai manajemen/bisnis ataupun mengenai dinamika industri yang ditekuni oleh perusahaan tersebut (beragam artikel yang ada di blog ini juga sangat cocok menjadi materi buletin itu…..hehehehe). Buletin ini sebaiknya didistribusikan melalui multimedia email (email multimedia maksudnya email yang isinya variatif, penuh warna dan elemen visual lainnya; jadi berbeda dengan email tradisional yang garing dan biasa Anda terima itu). Melalui knowledge buletin ini, pengetahuan setiap karyawan perusahaan Anda bisa terus disegarkan dan ter-upate; jadi tidak lapuk ketinggalan zaman.

Demikianlah tiga langkah praktikal yang mungkin bisa Anda lakukan untuk mulai membangun knowledge management system di kantor/perusahaan Anda. Sebuah tindakan untuk merawat, menyemai dan memupuk benih-benih gagasan setiap insan demi tumbuhnya sebuah taman pengetahuan yang indah nan mencerahkan.

Posted by: stevanustanly | May 13, 2011

Pendidikan dan Kewirausahaan

Saya ingat ketika dulu menduduki bangku TK, bermain, bernyanyi dan makan-makan bersama teman-teman dan guru. Pendidikan yang saya dapatkan di sebuah TK di Bali sangatlah sederhana. Seperti kebanyakan TK lainnya, TK saya dilengkapi dengan arena bermain, bak pasir, aula dan ruang kelas. Sarana pembelajaran pun masih sangat sederhana. Beranjak ke SD, saya merasakan perbedaan yang sangat dari cara belajarnya. Pembelajaran berlangsung dengan sedikit permainan yang membuat saya dan teman-teman cenderung bosan. Setelah tahun kedua, saya migrasi ke Bandar Lampung di Pulau Sumatera. Peradaban di Lampung jauh lebih baik. Lebih modern. Informasi yang saya dapatkan lebih actual dan saya bisa mengikuti tren-tren yang ada dengan cepat Singkat waktu, saya kembali ke Bali untuk melanjutkan ke SMP dan SMA. Saya kembali menghadapi keterbelakangan peradaban. Ironis memang jika Bali dikenal oleh internasional namun kota saya masih mengalami ketertinggalan. Ya, itulah pengaruh tidak meratanya pembangunan.

Semakin umur bertambah, semakin besar tanggung jawab yang harus dipikul seseorang. Saat itu, saya menanggalkan status siswa saya dan saya bersiap untuk menyandang status sebagai mahasiswa. Saya kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Disinilah letak kenikmatan hidup saya selama ini. Memang, awalnya terkesan asing. Apalagi pembelajaran yang sangat-sangat jauh berbeda. Tanggung jawab besar harus ditanggung oleh mahasiswa. Kita tidak lagi dimarah ketika tidak mengerjakan tugas kuliah. Namun, konsekuensinya adalah kita tidak mendapat nilai tugas. Di penghujung kuliah, setiap mahasiswa wajib mengerjakan tuga akhir atau skripsi. Ini sunggu berat. Tanggung jawab yang semakin besar harus dan mau tidak mau ditanggung oleh setiap mahasiswa yang ingin menyelesaikan studi dan menyandang gelar sarjana. Setelah tugas akhir yang begitu berat dapat terselesaikan, kini saatnya kita bersiap-siap untuk masuk ke dunia kerja.

Kampus saya memiliki visi untuk 80% lulusannya langsung bekerja. Ini bukan sesuatu yang mustahil. Ini mungkin. Terbukti dari angka mahasiswa yang bekerja sesaat setelah lulus tersebut mendekati angka yang ditentukan. Kebanyakan dari mahasiswa yang telah lulus dan menyandang gelar sarjana berpikir untuk langsung membuat CV, surat lamaran dan berpikir untuk bekerja di sebuah instansi atau perusahaan. Jarang sekali dari mereka yang berpikir untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. Banyak dari teman saya yang bekerja di sebuah perusahaan dan setelah sekian lama, karirnya begitu-begitu saja. Ada beberapa teman curhat pada saya mengenai hal ini. Sebenarnya kerja di kantor atau pun menjadi seorang wirausaha merupakan panggilan. Tidak bisa semua orang menjadi wirausaha atau pun di kantoan.

Penyebab pola pikir yang demikian ditanam sedari kecil. Saat dewasa, saya baru menyadari betapa pentingnya masa kanak-kanak. Disitulah pola berpikir kita dibentuk. Kita akan menjadi serupa dengan lingkungan dimana kita berada.

Saat ini saya bekerja di sebuah lembaga pendidikan Tunas Daud yang memiliki visi “Mempersiapkan pemimpin masa depan”. Di sekolah ini, sejak dari PG dan TK sudah ditanamkan jiwa wirausaha. Ketika SD, mereka bisa menciptakan sebuah produk dan menjualnya kepada teman-teman mereka melalui bazaar-bazar yang diadakan. Mereka dilatih untuk mengasah setiap kreativitas yang dimiliki. Sekolah Kristen ini juga menerapkan pembelajaran yang didasarkan oleh Firman Tuhan.

Di sekolah ini, sedari TK hingga SMA diajarkan computer. Mereka diajarkan paint, Microsoft Office, Flash, Photoshop dan sebagainya. Yang membuat saya terkejut, ada beberapa aplikasi-aplikasi yang terbilang jarang diajarkan oleh sekolah-sekolah sejenis namun diajarkan disini, seperti Adobe Premiere dan Adobe After Effect. Aplikasi-aplikasi yang diajarkan benar-benar mendorong siswa-siswi Tunas Daud untuk memiliki pola piker wirausaha. Dengan pembelajaran tersebut, mereka bisa membuka studio foto, jasa pengabadian momen, editing video, pembuatan game, desain web dan sebagainya.

Saya mendorong setiap sekolah untuk menanamkan jiwa kewirausahaan sedari dini. Hal ini untuk membekali setiap siswa-siswi yang dibina untuk kelak sukses di kemudian hari.

Posted by: stevanustanly | May 13, 2011

Pendidikan dan Kewirausahaan

Saya ingat ketika dulu menduduki bangku TK, bermain, bernyanyi dan makan-makan bersama teman-teman dan guru. Pendidikan yang saya dapatkan di sebuah TK di Bali sangatlah sederhana. Seperti kebanyakan TK lainnya, TK saya dilengkapi dengan arena bermain, bak pasir, aula dan ruang kelas. Sarana pembelajaran pun masih sangat sederhana. Beranjak ke SD, saya merasakan perbedaan yang sangat dari cara belajarnya. Pembelajaran berlangsung dengan sedikit permainan yang membuat saya dan teman-teman cenderung bosan. Setelah tahun kedua, saya migrasi ke Bandar Lampung di Pulau Sumatera. Peradaban di Lampung jauh lebih baik. Lebih modern. Informasi yang saya dapatkan lebih actual dan saya bisa mengikuti tren-tren yang ada dengan cepat Singkat waktu, saya kembali ke Bali untuk melanjutkan ke SMP dan SMA. Saya kembali menghadapi keterbelakangan peradaban. Ironis memang jika Bali dikenal oleh internasional namun kota saya masih mengalami ketertinggalan. Ya, itulah pengaruh tidak meratanya pembangunan.

Semakin umur bertambah, semakin besar tanggung jawab yang harus dipikul seseorang. Saat itu, saya menanggalkan status siswa saya dan saya bersiap untuk menyandang status sebagai mahasiswa. Saya kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Disinilah letak kenikmatan hidup saya selama ini. Memang, awalnya terkesan asing. Apalagi pembelajaran yang sangat-sangat jauh berbeda. Tanggung jawab besar harus ditanggung oleh mahasiswa. Kita tidak lagi dimarah ketika tidak mengerjakan tugas kuliah. Namun, konsekuensinya adalah kita tidak mendapat nilai tugas. Di penghujung kuliah, setiap mahasiswa wajib mengerjakan tuga akhir atau skripsi. Ini sunggu berat. Tanggung jawab yang semakin besar harus dan mau tidak mau ditanggung oleh setiap mahasiswa yang ingin menyelesaikan studi dan menyandang gelar sarjana. Setelah tugas akhir yang begitu berat dapat terselesaikan, kini saatnya kita bersiap-siap untuk masuk ke dunia kerja.

Kampus saya memiliki visi untuk 80% lulusannya langsung bekerja. Ini bukan sesuatu yang mustahil. Ini mungkin. Terbukti dari angka mahasiswa yang bekerja sesaat setelah lulus tersebut mendekati angka yang ditentukan. Kebanyakan dari mahasiswa yang telah lulus dan menyandang gelar sarjana berpikir untuk langsung membuat CV, surat lamaran dan berpikir untuk bekerja di sebuah instansi atau perusahaan. Jarang sekali dari mereka yang berpikir untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. Banyak dari teman saya yang bekerja di sebuah perusahaan dan setelah sekian lama, karirnya begitu-begitu saja. Ada beberapa teman curhat pada saya mengenai hal ini. Sebenarnya kerja di kantor atau pun menjadi seorang wirausaha merupakan panggilan. Tidak bisa semua orang menjadi wirausaha atau pun di kantoan.

Penyebab pola pikir yang demikian ditanam sedari kecil. Saat dewasa, saya baru menyadari betapa pentingnya masa kanak-kanak. Disitulah pola berpikir kita dibentuk. Kita akan menjadi serupa dengan lingkungan dimana kita berada.

Saat ini saya bekerja di sebuah lembaga pendidikan Tunas Daud yang memiliki visi “Mempersiapkan pemimpin masa depan”. Di sekolah ini, sejak dari PG dan TK sudah ditanamkan jiwa wirausaha. Ketika SD, mereka bisa menciptakan sebuah produk dan menjualnya kepada teman-teman mereka melalui bazaar-bazar yang diadakan. Mereka dilatih untuk mengasah setiap kreativitas yang dimiliki. Sekolah Kristen ini juga menerapkan pembelajaran yang didasarkan oleh Firman Tuhan.

Di sekolah ini, sedari TK hingga SMA diajarkan computer. Mereka diajarkan paint, Microsoft Office, Flash, Photoshop dan sebagainya. Yang membuat saya terkejut, ada beberapa aplikasi-aplikasi yang terbilang jarang diajarkan oleh sekolah-sekolah sejenis namun diajarkan disini, seperti Adobe Premiere dan Adobe After Effect. Aplikasi-aplikasi yang diajarkan benar-benar mendorong siswa-siswi Tunas Daud untuk memiliki pola piker wirausaha. Dengan pembelajaran tersebut, mereka bisa membuka studio foto, jasa pengabadian momen, editing video, pembuatan game, desain web dan sebagainya.

Saya mendorong setiap sekolah untuk menanamkan jiwa kewirausahaan sedari dini. Hal ini untuk membekali setiap siswa-siswi yang dibina untuk kelak sukses di kemudian hari.

Posted by: stevanustanly | March 24, 2011

Makanan termahal di dunia

Makanan juga memiliki nilai komersial tersendiri. Orang menyalurkan kreativitasnya melalui makanan, sehingga makanan tersebut menjadi sangat mahal melebihi nilai dari makanan itu sendiri. Ada makanan yang dijual seharga $1,000, bahkan ada yang mencapai $1,6 juta !

Pada tanggal 7 November 2007, Stephen Bruce memperkenalkan Sundae dengan harga $1,000, yang disebut “Frrrozen Haute Chocolate” di Serendipity 3, Manhattan, Amerika Serikat. Sundae ini memecahkan rekor dunia yang baru untuk makanan penutup termahal di dunia, yaitu seharga $25,000! Sundae ini dibuat dari 28 buah coklat, termasuk 14 buah coklat termahal di dunia. Sundae ini dihidangkan dengan gelas berlapis emas 23 karat seberat 5 gram. Dan bukan hanya itu saja, ada bagian lainnya yang berupa emas 18 karat, dan juga 1 karat emas putih. Sendok untuk menikmati sundae tersebut juga tak kalah berkelas, yaitu sendok emas bertatahkan berlian. Sundae tersebut juga dilengkapi dengan truffle langka, yang dijual seharga $2,600 !
Di Westin Hotel Hotel di New York’s Time Square, Executive Chef Frank Tujague memperkenalkan bagel seharga $1,000! Bagel ini dihidangkan dengan Alba White Truffle cream cheese yang sangat langka dan Goji-Berry-Infused Riesling jelly. The Alba White Truffle adalah makanan kedua termahal di dunia, dan Goji Berry adalah makanan langka yang kaya dengan beta-carotene. Piring untuk menghidangkan bagel ini dirancang untuk memberikan beasiswa bagi pelajar sekolah kuliner.
“Zillion Dollar Frittata” terbuat dari 6 telur, 1 lobster, 10oz caviar, bahan-bahan lainnya yang luar biasa. Nah, makanan ini dihargai senilai $1,000!

Pada tahun 2005, fruitcake bertaburkan lebih dari 233 berlian dan dirancang oleh 17 orang perancang berlian dipamerkan di Tokyo dalam acara “Diamonds : Nature’s Miracle” Expo. Fruitcake ini dibuat dengan melibatkan 2 chef terkenal dari Tokyo, dan menghabiskan waktu selama 1 bulan untuk merancangnya, dan 6 bulan untuk membuatnya. Fruitcake ini dihargai $1,6 juta dollar!

“Martini-On-The Rock” dari Algoquin Hotel di Manhattan dapat dinikmati seharga $10,000! Nah, untuk memesan saja memerlukan waktu 72 jam karena Anda harus memilih berlian dan cincin yang akan ditempatkan di bawah gelas martini Anda. Wow!

Neno Selimaj memperkenalkan “Luxury Pizza” yang satu pan pizzanya dihargai $1,000 dan satu slice dihargai $125! Pizza dengan ukuran 12 inci ini dihidangkan dengan topping caviar, crème fraiche dan chives, serta berbagai macam isi lainnya. Dijual di Nino’s Bellissima di New York, Amerika Serikat, Anda juga bisa memesannya dalam waktu 24 jam, apabila Anda menginginkan pizza tersebut dilengkapi dengan topping berupa 6 jenis caviar yang dipesan secara khusus.
Bagaimana? Anda tertarik untuk mencoba?

(Sumber dan foto-foto dari www.cnbc.com)

Posted by: stevanustanly | February 11, 2011

Capability Maturity Model Integration (CMMI)

Capability Maturity Model Integration (CMMI)

Latar Belakang CMMI

Tujuan awal dirumuskannya CMMI adalah untuk mendukung proses tender di lingkungan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (US-DoD). Mereka ingin memiliki sistem penilaian terhadap semua vendor yang mengajukan proposal. Untuk itu dirumuskanlah sistem penilaian vendor berupa Maturity Level (Maturity Level).

Maturity Level di CMMI ada 5, mulai dari yang terendah Maturity Level 1 hingga Maturity Level 5. Bila perusahaan telah mencapai Maturity Level-5, maka perusahaan tersebut bisa ikut dalam tender proyek software Rudal Patriot. Tidak terlalu dijelaskan apa itu Rudal Patriot. Setiap Maturity Level memiliki seperangkat Process Area yaitu Generic Practices (GP) dan Specific Practices (SP) yg harus dipenuhi agar perusahaan berhak menggunakan titel Maturity Level tersebut. Sebagai contoh, bila perusahaan ingin lulus Maturity Level-2, maka perusahaan harus mengimplementasikan 7 process area. Untuk mencapai Maturity Level-3, perusahaan harus mengimplementasikan 7 process area dari Maturity Level-2 ditambah dengan 11 process area dari Maturity Level-3. Demikian seterusnya, sehingga Maturity Level-5 yang sudah mengimplementasikan 22 process area.

Bila perusahaan sama sekali belum mengimplementasikan apa-apa, perusahaan dikategorikan sebagai Maturity Level-1. Level ini diadakan sebagai hiburan bagi perusahaan yang sudah ikut SCAMPI Class A, tapi tidak lulus bahkan di Maturity Level-2.

CMMI

Capability Maturity Model Integration (CMMI) merupakan suatu model pendekatan dalam penilaian skala kematangan dan kemampuan sebuah organisasi perangkat lunak. CMMI pada awalnya dikenal sebagai Capability Maturity Model (CMM) yang dikembangkan oleh Software Enginnering Institute di Pittsburgh pada tahun 1987. Namun perkembangan selanjutnya CMM menjadi CMMI. CMMI mendukung proses penilaian secara bertingkat. Penilaiannya tersebut berdasarkan kuisioner dan dikembangkan secara khusus untuk perangkat lunak yang juga mendukung peningkatan proses.

CMMI memiliki 4 aturan yang dapat disesuaikan menurut organisasisoftw are, yakni: System Engineering(SE), Software Engineering(SW ), Integrated Product and Process Development (IPPD), dan Supplier Sourcing (SS).

CMMI terdiri dari rangkaian practices. Dalam rangkaian practices ini ada rambu-rambu atau rekomendasi yang dapat diikuti. Practices dalam CMMI dibagi menjadi dua, yaitu Generic Practices (GP) dan Specific Practices (SP). Bila kita sudah mengimplementasikan practices dengan sempurna, kita dianggap sudah memenuhi Goals. Sama seperti practices, ada Generic Goals (GG) dan Specific Goals (SG). SG dan SP dikelompokkan menjadi Process Area (PA). Total ada 22 Process Area dalam CMMI for Development versi 1.2. 22 Process Area tersebut dapat dilihat dalam gambar di bawah

Gambar 1. Process Area CMMI ver. 1.2 (sumber: Wikipedia)

 

Saat ini versi CMMI terbaru adalah 1.2. Namun, November 2010 mendatang, CMMI versi 1.3 akan dirilis.

CMMI vs. ISO

Perbedaan CMMI dan ISO terletak pada ketelitiannya. Bila kita ingin perusahaan kita mendapat sertifikasi ISO, perusahaan kita harus memiliki Standard Operating Procedure (SOP) yang tertulis. Kemudian kita harus membuktikan pada badan sertifikasi bahwa SOP tersebut kita jalankan dengan baik. Apa saja yang kita tulis dalam SOP bebas terserah kita. ISO tidak mengatur sampai ke tingkat itu.

Berbeda dengan CMMI, selain kita punya SOP, dia punya aturan khusus tentang isi SOP. Misalnya, kalau kita melakukan analisa kebutuhan (requirement gathering), ada beberapa aturan yang harus diikuti, misalnya:

  • Pernyataan kebutuhan user harus dicatat
  • Pernyataan kebutuhan harus dikonfirmasi ke user
  • kebutuhan harus disetujui kedua pihak
  • Kalau ada perubahan, harus dicatat
  • Antara kebutuhan dan software yang dideliver, harus bisa dilacak bolak-balik

Singkatnya, jika perusahaan telah lulus ISO, belum tentu perusahaan tersebut lulus CMMI. Sebaliknya, perusahaan telah lulus CMMI, besar kemungkinan perusahaan tersebut akan langsung lulus ISO bila mengikut sertifikasinya.

Keuntungan CMMI

Beberapa keuntungan yang diperoleh saat perusahaan menerapkan CMMI:

  • Penilaian studi kualitas (assessing) atas proses kematangan (maturity) terkini.
  • Meningkatkan kualitas struktur organisasi dan pemrosesan dengan mengikuti pendekatan best-practice.
  • Digunakan dalam proses uji-kinerja (benchmarking) dengan organisasi lainnya.
  • Meningkatkan produktivitas dan menekan resiko proyek.
  • Menekan resiko dalam pengembangan perangkat lunak.
  • Meningkatkan kepuasan pelanggan.
  • Mempunyai fitur-fitur yang bersifat institusional, yaitu komitmen, kemampuan untuk melakukan sesuatu, analisis dan pengukuran serta verifikasi implementasi.
  • Tersedianya “Road Map” untuk peningkatan lebih lanjut.


Stage-stage dalam CMMI


Model CMMI menempatkan organisasi pada lima level proses maturity yang memiliki indikasi kenyamanan dan kualitas produk. Lima level tersebut adalah :

Gambar 1. Maturity Level dalam CMMI

  • Maturity level 1 – Initialized

Pada ML1 ini proses biasanya berbentuk ad hoc. Sukses pada level ini didasarkan pada kerja keras dan kompetensi yang tinggi orang-orang yang ada di dalam organisasi tersebut atau dapat juga dikatakan perusahaan ini belum menjalankan tujuan dan sasaran  yang telah didefinisikan oleh CMMI.

  • Maturity level 2 – Managed.

Pada ML2 ini sebuah organisasi telah mencapai seluruh specific dan generic goals pada Level 2. Semua pekerjaan yang berhubungan dengan dengan proses-proses yang terjadi saling menyesuaikan diri agar dapat diambil kebijakan. Setiap orang yang berada pada proses ini dapat mengakses sumber daya yang cukup untuk mengerjakan tugas masing-masing. Setiap orang terlibat aktif pada proses yang membutuhkan. Setiap aktivitas dan hasil pekerjaan berupa memonitor, mengontrol, meninjau, serta mengevaluasi untuk menjaga kekonsistenan pada deskripsi yang telah diberikan.

  • Maturity level 3 – Defined.

Pada ML3 ini sebuah organisasi telah mencapai seluruh specific dan generic goals pada Level 2 dan Level 3. Proses dicirikan dengan terjadinya penyesuaian dari kumpulan proses standar sebuah organisasi menurut pedoman-pedoman pada organisasi tersebut, menyokong hasil kerja, mengukur, dan proses menambah informasi lain menjadi milik organisasi.

  • Maturity level 4 – Quantitatively Managed.

Pada ML4 ini, sebuah organisasi telah mencapai seluruh specific dan generic goals yang ada pada Level 2, 3, dan 4. Proses yang terjadi dapat terkontrol dan ditambah menggunakan ukuran-ukuran dan taksiran kuantitatif. Sasaran kuantitatif untuk kualitas dan kinerja proses ditetapkan dam digunakan sebagai kreteria dalam manajemen proses.

  • Maturity level 5 – Optimizing.

Pada ML5 ini suatu organisasi telah mencapai seluruh specific dan generic goals yang ada di Level 2, 3, 4, dan 5. ML5 fokus kepada peningkatan proses secara berkesinambungan melalui inovasi teknologi.

Perusahaan Internasional yang mengimplementasikan CMMI:

Huawei (CMMI Level 5)

Litbang di Huawei menjadi bagian terpenting dari industri teknologi baik software maupun hardware. Inilah yang membuat Huawei terbukti responsif terhadap kebutuhan masa depan dan masa kini pelanggan. Investasi di area ini penting untuk terus-menerus mengembangkan teknologi, solusi dan layanan yang tujuan akhirnya adalah memaksimalkan keuntungan dan memberikan nilai tambah bagi pelanggan.

Pada akhir September 2008, sekitar 44% dari total 96.800 karyawan Huawei terlibat dalam R&D. Sebagai bagian terintegrasi dari keseluruhan proses, Huawei menanamkan kembali 10% pendapatan dari hasil penjualannya untuk riset dan pengembangan di mana 10% tersebut diarahkan untuk mendanai pengembangan berbagai teknologi mutakhir dan teknologi dasar setiap tahunnya.

Perusahaan Internasional lainnya yang meraih level maturity 5 adalah Toshiba, NASA dan ATSI (The Association of Thai Software Industry).

Posted by: stevanustanly | February 11, 2011

Green Computing

Green Computing

Global warming has become perhaps the most complicated

issue facing the world today’s. Climate change, extreme

weather conditions, ecological disruption, the increasing of

global temperature, global warming have serious impacts

to environment and society which we can clearly feel from

now. It needs an action for you and all of us to reduce the

impact of global warming.


 

 

BACKGROUND

As we know that climates condition and glass house effect has become a serious problem facing the world today. It becomes primary concern from the major countries in the world since the last few decades. Although not everyone believes into the theory of global warming or believes that human actions have such a significant impact on the environment and even scientists share different opinions. However,there is enough evidence to prove that the earth’s resources are limited, so precautions must be taken for the future of our ecosystem. Information technology itself considered plays a certain role in the problem of climate change and global warming issues, yet on the other hand it evidently motivates enterprises to adapt Green IT.

It’s no secret that data centers and computer networks account for an exceedingly high percentage of many companies’ total energy consumption. A report on 2009 by Gartner, industry analysts, said the global IT industry generated as much greenhouse gas as the world’s airlines – about 2% of global CO2 emissions and data centers are among the most energy-intensive facilities. By this, we can imagine how large the energy consumption of every company in this world that runs computer network and data center. Most business leaders need to be quick in adapting Green IT such as improving power management, using energy-efficient hardware or adapting virtualization technology. The use of green IT is to save money and energy while reducing carbon footprints and preserving the environment.Since two years ago, Biznet replaced telephone system over IP phones (VoIP) which requires less energy to operate than other compatible systems. Biznet Technovillage Project located in Cibubur, West Java, will have many green concept in terms of building design, landscape, power efficiency, lighting and data center cooling. By using solar panel for lighting, Biznet aimed to cut gas emission and save more energy. A Cloud Computing service, which will be ready in coming months, will provide shared computing facility (virtualization) in a secure environment.

GREEN COMPUTING

“Greening” your computing equipment is a low-risk way for your business to not only help the environment but also reduce costs. It’s also one of the largest growing trends in business today. “Making a conscious decision to go green in the workplace, not only improves your bottom line, but also reduces your carbon footprint. It’s a win-win no matter how you look at it”, says Shawn Nesbitt, the founder of Simple Network Consulting. Reducing energy usage, which also reduces carbon dioxide emissions and your energy bill, is the most effective thing you can do. The average PC wastes about half the energy provided to it, according to the Climate Savers Computing Initiative, an industry group dedicated to reducing greenhouse-gas emissions. You should encourage employees to shut down their PCs or put them into sleep mode when not working on them. Nesbitt recommends implementing thin clients produced by Neoware to reduce the TCO of your company’s computing environment.

How Did Green Computing Start?

 

Green computing started as early as 1992, when the EPA created Energy Star, which is a voluntary labeling program that promotes energy efficient computing equipment and technologies. It was because of this program that many computer manufacturers launched sleep mode and millions of computer users around the world began to adopt this policy to help save energy when they were not using their computers. The term green computing began to be used around this same time as well, and began to become a goal that more companies strive to meet over the years.

There are several government agencies that have continued to help strive for better standards for computers and companies to help promote green computing. Energy star was actually revised in October of 2006 to make the requirements more strict for computers, and also implemented a ranking system for products. Because of these new requirements, there are over 20 states that have now established a special recycling program for old computers and electronics to help with green computing.

Green IT Systems

 

Many of today’s IT systems are beginning to rely on both people and hardware to help push their computer systems toward a more green computing system to help both the company and more. This is a hard balance to achieve, as it requires that the satisfaction of users, management, regulatory compliance, and even the disposal of computer waste is all managed so that everyone is the circle is happy with the outcome. But, many companies are learning the best ways that they can go more green when it comes to their computing and also help their business in the process.

While many home computer users may not be quite as familiar with green computing as larger firms or computer personell, this term is starting to become more mainstream and the requirements better for new computers to help both the companies and the end user of the equipment – as well as our environment.

 

REDUCING PAPER WASTE

Rather than creating a paperless office, computer use has vastly increased paper consumption and paper waste. Here are some suggestions for reducing waste:

  • Print as little as possible. Review and modify documents on the screen and use print preview. Minimize the number of hard copies and paper drafts you make.
  • Instead of printing, save information to disk.
  • Recycle waste paper.
  • Buy and use recycled paper in your printers and copiers. From an environmental point of view, the best recycled paper is 100 percent post consumer recycled content. For more information about obtaining recycled paper, contact Simple Network Consulting for more information.
  • Do not print out un-necessary e-mail messages.
  • Use e-mail instead of faxes or send faxes directly from your computer to eliminate the need for a paper copy.
  • Before recycling paper, which has print on only one side, set it aside for use as scrap paper or for printing drafts.
  • When general information-type documents must be shared within an office, try circulating them instead of making an individual copy for each person. This can also be done easily by e-mail.

Choose Eco-Friendly Office Products & Solutions

 

Reduce the amount of electricity consumption by using eco-friendly office products such as LED desk lamps that use 90 percent less power than lamps using incandescent bulbs. You can also Review the company’s IT equipment closely. Many of the computer companies, IBM in particular, are offering green solutions to reduce power usage and to help trade up old equipment.

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.