Posted by: stevanustanly | August 21, 2009

Humor Campur2

Minum Kopi
Hance : Aku kalau minum kopi tidak bisa tidur.
Yoshi : Kalau aku malah sebaliknya, kalau tidak minum kopi tidak bisa tidur.
Nyong : Kalau aku lebih parah lagi, kalau sudah tidur tidak bisa minum kopi.

Anjing Pintar
Istri : pa, sekarang anjing kita makin pintar aja deh, Pa! Dia membawakan koran baru setiap pagi
Suami : Itu sih biasa aja.. Banyak anjing yang bisa seperti itu.
Istri : Tapi kita kan tidak pernah langganan koran Pa!

Obat Panas
Seorang dokter melihat pasiennya yang sedang membuat kopi, kemudian memasukkan sebutir obat ke dalamnya.
Dengan penasaran dokter bertanya kepada si pasien.
Dokter : “Obat apa yang kamu masukan ke kopimu?”
Pasien : “Obat penurun panas, biar kopinya cepat dingin.”

Penjual Gado-Gado
Suatu hari sebuah kereta api melaju dengan kencang hendak melewati perkampungan. Di perkampungan itu ada seorang ibu penjual gado-gado selesai mencuci serbetnya (kain lapnya) yang berwarna merah. Selesai mencuci dia mengibaskan serbet tersebut untuk dijemur di pagar pembatas antara rel kereta dengan kampung.
Dari kejauhan, sang masinis kereta melihat si ibu dengan kain lap yang berwarna merah yang dikebas-kebaskan. . Masinis menjadi menyangka ibu itu memberi tanda bahaya. Dengan khawatir masinis segera mengerem keretanya secara mendadak hingga menyebabkan para penumpang kereta terjungkal.
Lalu masinis bertanya pada ibu tersebut, “Ada apa, Bu!”
Si ibu penjual gado-gado pun menjawab dengan ringan, “Hampir habis, Pak. Tinggal kacang panjang dan kangkung doang!”

Pemakaman Sang Istri
Kebaktian dukacita, untuk mengenang seorang istri yang baru saja meninggal, baru saja selesai.. Lalu beberapa orang diminta menggotong peti jenasah itu menuju ke pekuburan. Tapi saat hendak keluar dari gereja, tanpa disengaja, peti itu menyenggol tembok & jatuh terbanting dgn keras. Para tamu terkejut semuanya, karena mereka mendengar erangan dari dalam peti jenasah itu. Ternyata sang wanita masih hidup dan bertahan hingga sepuluh tahun lamanya. Akhirnya sepuluh tahun kemudian sang istri meninggal lagi.
Kebaktian dukacita berlangsung di gereja yang sama. Saat selesai kebaktian, peti itu hendak digotong ke luar gereja dan menuju pemakaman. Sambil menangis, si suami ber-teriak², “AWAS TEMBOK! AWAS TEMBOK!”

Sari….
Suatu malam polisi merazia bencong-bencong di Taman Lawang. Mereka diangkut ke truk polisi dan selanjutnya diinterogasi di Polsek.
Polisi: “Siapa nama kamu???!!!”
Bencong (gugup): “Sss…ari, Pak…”
Polisi: “Yang bener kamu…jangan boong!!!!”
Bencong: “Iya…Pak.. . bener kok Ssarii…gak boong…”
Polisi: “Bohong!!!! Pasti bohong!!! Kalo bohong mati lu…”
Bencong (mengeluarkan suara aslinya): “Sari…pudin, Pak!”

Tukang Kue Error
Seorang dokter memesan sebuah kue ulang tahun untuk istrinya.
“Apa tulisan yang harus saya tulis di kue ulang tahun ini, Pak?” tanya si tukang kue.
“Mmmm, tulis aja “Kamu tidak bertambah tua” di bagian atas, kemudian sambung dengan “Kamu cuma bertambah cantik” di bagian bawah,” kata dokter.
Dan ketika kue ulang tahun itu tiba di depan istri dan tamu-tamu undangan lainnya, si dokter langsung semaput ketika membaca tulisan yang tertera di kue itu: “KAMU TIDAK BERTAMBAH TUA DI BAGIAN ATAS
KAMU CUMA BERTAMBAH CANTIK DI BAGIAN BAWAH.”

Bindeng
Suatu hari Nyong sedang dalam perjalanan dari Cinere ke Pondok Labu dengan menumpang sebuah angkot, dan kebetulan saya duduk disebelah sopir. Setelah sampai di depan Mal Cinere, ada seorang pemuda minta diturunkan, kemudian pemuda itu hendak membayar ongkosnya. Si pemuda itu bertanya kepada sopir di sebelah saya, namun rupanya si pemuda itu suaranya bindeng.
Pemuda : hang ! heraha onghosha ? ( Bang ! berapa ongkosnya ? )
Namun sopir di sebelah saya itu diam saja.
Pemuda : hang ! heraha onghosha ? hihanya hok hiem aha, huhek huping huha ? (Bang ! berapa ongkosnya ? ditanya kok diem aja, budek kuping lu ya ? )
Sopir tetap diam.
Pemuda : he hrengsek! hihanya hiem aha ! uhah hih hepek aha ! (Ye brengsek !ditanya diem aja ! udah nih cepek aja!)
Setelah menerima uang cepek ( Rp 100 ) itu, si sopir segera menjalankan angkotnya lagi. Lalu Si Nyong bertanya pada sopir, “Bang, kenapa sih tadi ditanya sama orang itu, kog nggak jawab ?”
Lalu si sopir menjawab, “Hua hih hukannya hak hau hawab ! hari hada hua hikira heledek, hendingan hua hugi hepek !” (Gua sih bukannya nggak mau jawab! dari pada gua dikira ngeledek, mendingan gua rugi cepek !”).
Rupanya si sopir juga bindeng…

Turis
Dua orang turis dari Amerika masuk ke sebuah restoran Cina di Glodok. Ketika melihat semangkuk sambal di atas meja, seorang dari mereka berkata, “Makanan apa ini?”
“Kelihatannya enak benar,” temannya menyambung.
Tanpa ragu-ragu si turis yang pertama tadi mengambil sesendok sambal dan dilahapnya sekaligus. Tentu saja mendadak airmatanya berleleran.
“Kenapa kamu menangis?” tanya temannya.
“Ah, tidak apa-apa,” jawabnya kalem. “Saya cuma sedang teringat akan ayah saya yang barusan meninggal. Makanan ini sungguh enak.”
Tanpa ragu-ragu pula temannya tersebut mencoba sesendok sambal. Sebentar kemudian airmatanya pun berleleran pula.
“Kenapa kamu menangis?” tanya si turis pertama.
“Ah, tidak apa-apa. Saya cuma menyesal kenapa kamu tidak ikut meninggal bersama ayahmu saja!!”

Ban Kempes
Tanpa disengaja seorang sekretaris melihat ritsluiting celana Bos-nya terbuka sewaktu pagi-pagi ia masuk kantor. Dengan sedikit malu ia berkata, “Bapak, sewaktu berangkat tadi dari rumah, apakah pintu garasi Bapak lupa ditutup kembali?”
Si Bos tidak menangkap maksud sekretarisnya. Dia baru tahu setiba pulang ketika istrinya menegurnya untuk hal yang sama. Esok harinya si Bos tersebut memanggil sang sekretaris ke ruang kerjanya.
“Lisa, kemarin ketika kau melihat pintu garasiku terbuka, adakah kau lihat BMW-ku merah muda berhidung panjang?”
“Tidak pak, melainkan sebuah Honda mini abu-abu dan kedua ban depannya yang kempes!”

A Sho Athu Osyi
Suatu ketika ada seorang yang bersuara sengau masuk kedai bakso.
Dia hendak memesan bakso.
“Mas, a sho athu osyi (Mas, baso satu porsi)” katanya.
Sang pelayan menghampiri, “Apa mas ?”
“A, sho athu osyi,” katanya mengulang.
“Ah, enggak ngerti mas” katanya sambil berlalu.
Orang ini kecewa lalu berlari pulang. Dia menulis dikertas “Bakso satu porsi.” Kemudian dia belajar mengucapkannya berkali2.
A sho athu osyi; asho athu osyi; asho athu osyi dan terus berkali2 sampai akhirnya dia bisa mengucapkan “Bakso satu porsi.”
Sepanjang jalan kembali menuju kedai bakso tadi dia terus mengucapkan bakso satu porsi; bakso satu porsi, berkali2.
Setibanya disana dia mencari tempat duduk, tiba – tiba dia berteriak “Mas, bakso satu porsi.” Sang pelayan menghampirinya, “Maaf, mas tadi ngomong apa ???”
“Nan nani nunah (khan tadi udah)…..!!!!! !!!” (kumat lagi!!!!!)

Ambil kembaliannya
Ada sepasang suami istri yang hidup bahagia.
Karena mereka saling pengertian.. …
Disuatu saat tatkala istri lagi hamil tua (-/+ 7-8 Bulan) terjadilah
dialog…
S : Ma, papa kangen nih …… ayo……dong
I: Ah .. papah, mama kan lagi hamil, nggak bisa dong……..
(sambil tersenyum simpul), mending jajan aja, mama nggak apa-apa kok…..
S: Beneran nih…(sedikit heran)
I : Iya… , Mamah nggak apa-apa kok..
Akhirnya suaminya pergi untuk melampiaskan keinginannya
(sambil bangga terhadap istrinya yang memberikan izin untuk jajan), mana ada istri yang pengertian seperti itu, Ia memang istri yang baik dan sangat pengertian (gumamnya)
Nggak lama kemudian dia balik ke rumahnya, dan istrinya lagi asyik nontonTV.
I : Pah, kok jajannya cepet banget sih???
S : Iya….. abis mo pergi jauh males….
I: Terus jajan di mana ????
S: di tetangga sebelah. (dengan polosnya)
I: dikasih uang berapa ???
S: papah kasih 200,000
I: Gila lo ya, Kemahalan tuh……
S: Memangnya kenapa mah ???
I: Iya pah, waktu istrinya hamil tua, mamah
cuma dikasih 100,000 oleh suaminya.
Ambil gih kembaliannya……..

Lanjutan Kisah Si Nyong
Suatu sore, Si Nyong yang urakan naik bis kota. Dia duduk disamping
seorang karyawati (mungkin umurnya 25 th an, seksi, cantik). Entah karena
“kebelet pipis”, karyawati tersebut tak kuasa menahannya dan akhirnya “beser”
(tidak banyak sih, tapi jok sebelahnya jadi basah).

Si Nyong kemudian penasaran dan bertanya :

“Maaf mbak, kok jok nya basah sih?”

“Eh maaf mas, Emm.. minyak wangi saya tumpah” jawab karyawati tersebut.

Dasar Si Nyong, dia sentuh jok basah itu kemudian menciumnya.
Lalu dengan entengnya Si Nyong pun ngomong,

“Ooo… Kalau minyak yang ini sih saya punya tutupnya, mbak”.

Akhirnya Si Nyong ditendang sama tuh cewek sampe nyungsep. Itulah sebabnya Si Nyong terjatuh dari bis. Suk, Kasihan juga nih Si Nyong, namanya kita catut terus, wakekok.

Tanah Rot
Pada suatu hari, sepasang turis lokal pergi berlibur ke Bali. Di sana mereka
mengunjungi tempat-tempat wisata seperti, Ubud, Danau Batur dan Tanah Lot. Setibanya di Tanah Lot, Pasangan itu memperdebatkan sesuatu hal yang sepele. Si suami berkata, “Menurut papan penunjuk arah di depan sana, tempat ini namanya Tanah Rot.”
Namun si istri membantah, “Nggak, tempat ini namanya Tanah Lot”
“Tanah Rot!” kata si suami.
“Nggak, Tanah Lot!” bantah si istri lagi.
“Tanah Rot!”
“Tanah Lot!”
“Rot!”
“Lot!”
“Rot! Rot! Rot!” balas si suami.
“Lot! Lot! Lot!” balas istrinya.
“Ya, udah, daripada kita ribut, nah … tuh ada orang berpakaian adat Bali,
kita tanya aja orang itu. Aku yakin dia tahu banyak akan tempat-tempat
wisata di sini,” kata si suami.
Lantas si suami bertanya kepada bapak tua yang berpakaian adat Bali
tersebut. Katanya, “Pak, numpang tanya yach … tempat ini namanya Tanah Rot atau Tanah Lot? sebab menurut papan penunjuk jalan itu, tempat ini namanya Tanah Rot, sedangkan di peta katanya tempat ini bernama Tanah Lot, karena menurut saya bapak ini orang Bali, jadi saya yakin kalo bapak tahu banyak akan tempat ini. Jadi yang benar namanya apa, Pak?”
“Namanya Tanah Rot”, jawab si bapak tua.
“Tanah Rot, Pak?” Kata si suami seolah tidak percaya.
“Ya, benar,” jawabnya lagi.
Lantas si suami berkata kepada istrinya, “Tuh kan … aku bilang juga apa.
Tanah Rot, ya, Tanah Rot!”
“Jadi bukan Tanah Lot, khan, Pak?”, katanya lagi kepada bapak tua tersebut.
“Bukan!”
“Wah, kalo begitu terima kasih banyak ya, Pak,” kata si suami. “Kalo bukan karena bapak, mungkin kami di sini bisa berdebat seharian penuh mengenai hal ini. Sekali lagi terima kasih, Pak!”
“KEMBARI…, ” jawab si Bapak Tua sambil berlalu dari tempat itu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: