Posted by: stevanustanly | February 3, 2010

Pembajakan: akankah usai??

Pembajakan merupakan isu membosankan yang tak kunjung rampung. Tak mudah menyelesaikan masalah ini karena akar permasalahannya sudah terlalu dalam. Pembajakan yang telah membudaya di negeri kita membuat masyarakat terbiasa untuk melanggar hak cipta. Selain harga buku bajakan yang lebih terjangkau, kualitasnya pun tak jauh dari buku yang asli.

Jaman dahulu pembajakan buku dilakukan dengan mengetik ulang yang memakan waktu cukup lama dan kemudian di cetak ulang, namun seiring perkembangan teknologi, pembajak dapat mem-photocopy atau men-scan dengan waktu yang relatif cepat. Hal ini merupakan salah satu pemicu tingginya angka pembajakan buku.

Penyebab awal terjadinya pembajakan buku adalah tingginya harga buku impor dibandingkan dengan daya beli masyarakat Indonesia yang rendah. Tak hanya itu, kurangnya minat membaca menyebabkan masyarakat enggan untuk membeli buku dengan harga yang tinggi hanya untuk sekali baca yang berakibat pembajakan yang semakin tak terkendali.

Untuk sebagian orang, ini merupakan peluang bisnis yang baik karena permintaan buku bajakan semakin tinggi yang mendorong sebagian orang untuk membuka usaha baru dengan menjual buku bajakan. Jika kita perhatikan, hubungan mutualisme terjadi antara pembajak dan penikmat bajakan. Selain penjual meraup keuntungan yang tidak sedikit, pembeli juga mendapatkan buku yang mereka inginkan dengan harga yang sangat terjangkau.

Hubungan yang tak terkendali ini membuat hukum hak cipta diabaikan, khususnya di Indonesia. Undang-undang pasal 22 Tahun 2002 tentang Hak Cipta tidak diindahkan oleh masyarakat karena dianggap bukan sesuatu pelanggaran yang besar jika hanya mem­-photocopy sebuah buku. Padahal bagi yang melanggar hak cipta, pembajak dikenakan hukuman pidana penjara paling lama tujuh tahun dan/atau denda paling banyak lima milyar. Sedangkan penjual buku bajakan dikenakan hukuman pidana penjara paling lama lima tahuna dan/atau denda paling banyak 500 juta.

Dibutuhkan tidak hanya sekedar hukum yang ditegakkan di negara ini, tapi juga kesadaran tiap individu untuk tidak melakukan pembajakan. Ada pepatah yang mengatakan “Jangan memukul jika tidak mau dipukul”, dengan lain kata “Jangan membajak jika tidak ingin dibajak”. Masyarakat sejak dini harus menanamkan rasa, bahwa mencuri tidak hanya mencuri uang atau barang, namun juga mencuri karya ataupun tulisan orang lain. Masyarakat harus memposisikan dirinya sebagai pencipta yang karyanya dibajak orang lain untuk menyadarkan pembajakan itu sangat merugikan.

Praktik pembajakan di negri ini tampaknya semakin mustahil untuk dimusnahkan, karena budaya ini telah mendarah daging pada kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat ingin yang murah, bila perlu gratis dari pada harus mengeluarkan uang yang banyak untuk buku. Karena menurut mereka lebih penting membeli telepon selular keluaran terbaru ketimbang membeli buku. Perlu perhatian khusus dari yang berwenang dan juga perhatian serta kesadaran masyarakat untuk tidak membeli buku bajakan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: