Posted by: stevanustanly | April 8, 2010

SOA is dead?

SOA is dead

Menurut Anne Thomas Manes dalam blog-nya, SOA dianggap akan mati pada tahun 2009 ini karena kemunculannya tidak diimbangi dengan kondisi ekonomi dunia yang buruk. Setelah berpikir untuk menjadi penyelaman IT, SOA sebaliknya menjadi gagal pada banyak organisasi ataupun perusahaan. SOA diharapkan dapat mengurangi biaya dan meningkatkan kecepatan namun SOA gagal memberikan manfaat yang telah dijanjikan. Setelah investasi ratusan juta rupiah, sistem IT tidak lebih baik dari sebelumnya. Banyak perusahaan yang semakin memburuk, biaya yang tinggi, proyek-proyek memakan waktu yang sangat lama. Orang-orang bisnis tidak lagi percaya bahwa SOA akan memberikan keuntungan yang spektakuler.

Perusahaan-perusahaan harus mati-matian membuat arsitektur baru untuk perbaikan mereka karena mereka menerapkan  tekonologi baru dan membangun interface layanan pada aplikasi yang terdahulu. Sebenarnya hal tersebut memerlukan desain ulang aplikasi dan perubahan besar dalam IT. Sebagian kecil pengguna SOA yang berhasil melakukan transformasi besar. Dalam setiap kisah sukses, SOA hanya menjadi salah satu aspek  transformasi usaha. Teknologi terbaru tidak akan membuat sesuatu yang lebih baik. Proyek integrasi tidak akan mengurangi biaya secara signifikan dan menambah kecepatan.

Banyak orang berkomentar tentang blog yang dibuat oleh Anne Thomas Manes. Mereka pro dengan pendapat Manes, dan mengatakan bahwa strategi SOA tidak dapat melakukan apa dalam teknologi dan sistem. SOA juga tidak memiliki hubungan apapun dengan WebServices. Perusahaan tidak akan menjadi pengguna SOA hanya dengan membuat WebServices karena tidak semua hasil WebServices dalam perusahaan harus dimasukkan dalam SOA. SOA harus dianggap sebagai bisnis proses, bukan sebagai pusat sistem IT. SOA juga memerlukan waktu yang lama, biaya yang besar dan sumber daya yang berkompeten.

Beberapa dari mereka kontra dengan pernyataan Manes, mereka menganggap bahwa ekonomi yang buruk justru akan mendorong suatu perubahan dan adopsi SOA dalam sebuah perusahaan. SOA berbicara tentang tiga hal, yaitu keefektifan, keefisiensian dan kecepatan. Jika infrastruktur bertemu dengan kebutuhan bisnis, dan kita mempunyai banyak uang serta bisnis tidak berubah, kita dapat mengabaikan SOA dan tetap melakukan apa yang sedang dijalankan. Namun, jika pelaku bisnis ingin melakukan perubahan ke arah yang lebih baik atau anggaran perusahaan sudah dipotong atau akan dipotong habis-habisan, atau perusahaan berada pada kondisini bisnis yang memaksa perubahan cepat, maka kita harus mempertimbangkan perubahan.

Kesimpulannya – Saya tidak setuju dengan pendapat Anne Thomas Manes, beberapa pernyataannya benar namun yang sering menyebabkan penerapan SOA gagal karena perusahaan terlalu sibuk menentukan teknologi yang terbaik untuk perusahaan mereka. Mereka sibuk menentukan vendor SOA, padahal penerapan SOA tidak semudah menginstall sebuah software, sehingga mereka lupa arti sebenarnya dari SOA yaitu services. Penerapan SOA yang baik adalah menggabungkan konsep IT dan bisnis.

Biaya SOA yang terlalu mahal juga menyebabkan SOA dianggap akan mati saat krisis global seperti sekarang ini. Banyak perusahaan tidak melihat kebutuhan, namun keinginan meningkatkan teknologi perusahaannya sehingga penerapan SOA hanya akan menghabiskan biaya dan hasil yang didapat tidak signifikan disamping penerapan yang tidak diimbangi dengan perubahan infrastruktur termasuk proses bisnis.

SOA akan sukses jika:

  1. Perusahaan sudah memiliki kematangan organisasi dan budaya yang mendukung kesuksesan SOA
  2. Memastikan dana untuk investasi dan biaya proyek serta keseimbangan dalam investasi shared assets dan aktifitas yang dapat terlihat hasilnya dalam jangka yang panjang.
  3. Kumpulan servis-servis akan mendorong proyek dan sebagai investasi aset dari proyek yang kemampuannya dibutuhkan oleh perusahaan.
  4. Mengetahui kedewasaan SOA, mereka harus mengenali mereka sedang berada dimana dan akan kemana serta menetapkan target.
  5. Arah manajemen yang jelas. Terlalu sering kita melihat SOA mencoba untuk menjadi pengatur secara bottom-up dalam sebuah perusahaan. Dalam organisasi, SOA dikendalikan oleh CIO dan dia menetapkan langkah-langkah IT selanjutnya.
  6. Telah memiliki IT untuk penerapan SOA. Perusahaan yang berhasil dalam penerapan SOA adalah mereka yang telah melakukan SOA sebelumnya.
  7. Perangkat lunak yang menjamin dapat digunakan kembali, konsisten dan dapat ditelusuri.
  8. Memiliki IT yang kuat. Jika perusahaan belum memiliki kerangka kerja IT yang baik pada tempat SOA dibangun haruslah diberikan stimulus agar IT semakin membaik.

Jadi, penerapan SOA tidak semudah yang dibayangkan. Kita perlu mengetahui apakah perusahaan kita memerlukan perubahan dengan implementasi SOA? Jika tidak, maka penerapan tersebut akan gagal.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: