Posted by: stevanustanly | May 5, 2014

Sekelumit saya mendirikan PAUD

Image

Kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan usia dini nampaknya sudah cukup baik. Hal ini bisa dilihat dari animo masyarakat yang sebagian besar telah menyekolahkan anaknya di usia dua tahun lebih. Memang, usia playgroup dan taman kanak-kanak merupakan usia emas mereka untuk belajar, karena setiap yang mereka dengar, lihat dan rasakan akan langsung mereka serap. Mereka meniru apa yang diucapkan dan dilakukan guru dan orang di sekitarnya dengan cepat. Oleh karena itu, masa kecilnya sangat mempengaruhi masa depannya.

Orang tua saya sangat cinta kepada anak-anak, terbukti beberapa bayi yang tidak diinginkan oleh orang tuanya dibesarkan oleh orang tua saya. Ada beberapa belas anak yang ada dibesarkan dengan baik dan disekolahkan. Berangkat dari kecintaan terhadap anak-anak itu, tercetuslah ide untuk membangun PAUD. Orang tua saya mempercayakan saya untuk mendirikan PAUD. Jujur saja, saya tidak terlalu suka anak-anak dan tidak berlatar belakang pendidikan. Rasanya dua hal itu bisa menjadi alasan yang cukup untuk saya menolak kepercayaan itu. Namun di hati terdalam ada rasa ingin mendidik anak-anak dengan cara yang lain, dengan cara yang tidak konvensional. Pemikiran terus bergulir diiringi dengan pelatihan-pelatihan yang saya ikuti, studi langsung ke beberapa sekolah di jawa, sumatra dan bali, ngulik di sekolah-sekolah internasional melalui dunia maya. Ibarat gumpalan bola salju yang menggelinding, ide-ide dan mimpi-mimpi bergulir dan bertambah besar, konsep sekolah sudah di benak dan siap untuk dieksekusi.

Seperti anak-anak sedang bermain masak-masakan atau polisi-polisian, begitulah saya bersama rekan saya saat pertama kali ‘ngantor’. Seperti tidak tahu apa yang harus dilakukan, padahal terlalu banyak yang harus dilakukan. Mulai dari persiapan administrasi sekolah, hingga penyusunan kurikulum dan mencari kandidat guru. Semua dilakukan dengan baik dan sepenuh hati, meskipun di awal banyak sekali kendala yang dihadapi tapi kita selalu mengalami kemudahan demi kemudahan. Saya yakin itu bukan karena kerja keras kita, tapi semua karena Tuhan yang menyertai sekolah kami.

Hingga saat ini, sekolah telah berdiri hampir genap satu tahun. Banyak suka duka yang dialami, namun duka yang kami alami akan terobati juga murid kami mengalami kemajuan, jadi tidak cengeng, jadi tambah percaya diri, jadi anak yang taat kepada gurunya. Ada kepuasan dan kegembiraan saat orang tua bercerita tentang perkembangan baik pada anaknya dan tingkah laku anaknya di rumah setelah beberapa bulan bersekolah. Beberapa orang tua bertutur, anak terbiasa berdoa sebelum makan dan terbiasa merapikan mainan setelah bermain.

Kali ini saya ingin berbagi mengenai aspek penting pendirian PAUD. Ada 4 hal menurut pengalaman saya yang harus benar-benar diperhatikan dalam mendirikan dan mengelola PAUD, yaitu sumber daya manusia, kekuatan finansial, konten / kurikulum sekolah dan legalitas.

Pertama, SDM. Aspek ini merupakan aspek yang paling penting dalam sebuah sekolah. Tidak banyak orang tua yang tidak mau menyekolahkan anaknya karena ada guru yang galak atau ada guru yang memiliki karakter kurang baik. Oleh karena itu harus dipilih yang terbaik, tidak hanya berkompeten di dunia anak namun juga memiliki karakter yang baik dan sayang kepada anak.

Buatlah suasana kerja yang nyaman agar guru betah dan dapat bekerja dengan optimal. Terkadang menangani guru tidak semudah yang dipikirkan, jika terlalu nyaman, mereka akan berada di comfort zone mereka, tidak ada usaha lebih, di sisi lain jika mereka selalu di dorong untuk usaha lebih, mereka akan tertekan. Beri mereka reward untuk hasil kerja mereka yang memukau. Beri mereka deadline untuk tugas yang mereka harus selesaikan. Setelah di-encourage, dalam beberapa waktu kualitas mereka akan menurun, perlu encouragement lagi. Dorong mereka untuk membaca, dorong mereka untuk think out of the box, dorong mereka untuk mengajar dengan cara lain yang biasa dilakukan sekolah-sekolah pada umumnya. Jangan lupa ikat mereka dengan perjanjian perjanjian yang mereka tanda tangani.

Kedua, kekuatan finansial. Kebanyakan sekolah akan merugi di beberapa tahun pertama. Ya, sekolah adalah investasi jangka panjang. Beberapa tips dari saya:

  • Belilah alat, mainan dan segala penunjang dengan kualitas baik. Memang lebih mahal tapi lebih tahan lama.
  • Untuk sekolah baru, sebaiknya keuangan dilakukan pembagian melalui pos-pos. Bedakan uang peralatan dan uang untuk makan anak-anak.
  • Ajak semua guru dan karyawan untuk berhemat. Matikan listrik jika sudah tidak digunakan, gunakan kertas bekas untuk draft printing, gunakan barang-barang bekas untuk art & craft, dsb.
  • Setiap pembelian apapun harus berdasarkan persetujuan kepala sekolah.
  • Idealnya uang SPP bisa memenuhi biaya operasional bulanan sekolah tanpa menggunakan uang pangkal.
  • Semua transaksi harus ada bukti dan tanda terima, termasuk pembayaran SPP.

Ketiga, isi. Sekolah bisa dikatakan perusahaan jasa karena sekolah menjual kurikulum. Kurikulum yang ada diharapkan dapat menjawab permasalahan yang ada pada anak. Pemerintah membebaskan sekolah untuk mengembangkan kurikulum yang ada dan kurikulum yang baik disusun sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Gunakan kreativitas dan berbagai sumber belajar untuk meningkatkan kreativitas dalam penyusunan kegiatan belajar, yang biasa disebut RKH. Untuk mencapai tujuan yang sama yang telah ditetapkan pemerintah, gunakan cara yang berbeda dengan sekolah-sekolah lain, buatlah diferensiasi yang membedakan sekolah kita dengan sekolah lain melalui kegiatan belajar yang kreatif dan menyenangkan.

Sekolah saya mengadopsi beberapa metode belajar dari montessori dan froebel. Montesorri menekankan empat hal yaitu, practical life (belajar gerakan dasar yang setiap hari dilakukan, seperti mengikat tali sepatu, menggosok gigi, menyapu, merapikan meja, dsb), sensorial (melatih setiap panca indera melalui alat-alat yang disediakan seperti membedakan bunyi, membedakan halus dan kasar, menyusun balok, membedakan rasa asin dan manis, dsb), matematika dan bahasa. Ada kelemahan dalam penerapan konsep montessori yaitu mengesampingkan sisi ‘fun’. Di kelas montessori tidak akan terlalu bising, setiap anak hening dan fokus dengan alat-alat sensorial montessori. Mereka akan mengambil, menggunakan dan merapikan alatnya masing-masing dan didampingi tutor. Berbeda dengan konsep froebel yaitu bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain. Froebel merupakan pencetus kindergarten, dimana anak tidak merasa sedang belajar namun sebenarnya mereka sedang belajar. Sebenarnya kedua konsep inilah yang diusung oleh Ki Hajar Dewantara ke dalam pendidikan di Indonesia, bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain.

Keempat, legalitas. Pemerintah sangat mendukung program PAUD. Di awal tahun 2000, pemerintah mengalokasikan dana yang sangat besar untuk PAUD. Kucuran dana beberapa puluh juta (dari yang saya dengar) akan diberikan pada PAUD yang akan berdiri. Karena besarnya dana yang diberikan, maka banyak oknum yang memanfaatkan kesempatan ini untuk kepentingan pribadi. Mereka membuat PAUD ‘abal-abal’ demi mendapatkan suntikan dana dari pemerintah. Di Jakarta, hampir di setiap gang ada PAUD sehingga citra PAUD menjadi buruk. Tak banyak masyarakat yang berpikir bahwa PAUD itu adalah taman kanak-kanak versi murahan. Setelah kejadian itu barulah pemerintah memperketat pendirian PAUD.

Sebenarnya, asal sudah memenuhi persyaratan, ijin dapat diperoleh dengan tidak terlalu susah. Yang mereka khawatirkan biasanya kontinuitas sekolah, jangan sampai sudah dapat ijin lalu tidak dapat murid dan sekolah tidak beroperasi lagi. Selain itu yang menjadi sorotan diknas adalah kualifikasi guru, kurikulum yang digunakan dan juga sarana pra-sarana penunjang pembelajaran.

Dari keempat hal yang saya sampaikan harus memiliki satu fondasi yaitu hati. Jika hati sudah bertekad kuat, tidak ada satu masalah yang dapat mengambil mimpi kita. Jalani saja. Where there is a will, there is a way. Kalau mau pasti bisa.

Sekian dulu tulisan dari saya. Memang tidak semua saya buka disini karena beberapa hal merupakan rahasia. Untuk rekan-rekan pendidik yang ingin sharing, bisa menghubungi saya melalui email stevanus.stanly@gmail.com. Mari majukan pendidikan di Indonesia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: